Abuget

Two Side of Nintendo Coin : Miyamoto and Yamauchi

Part 1 : A Story of Two Unique Minds

            “Legendaris” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Nintendo. Tidak tebilang berapa jumlah gamer yang menjadikan Nintendo sebagai perenggut keperjakaan ataupun keperawanan pengalaman gaming mereka. Hal ini cukup menarik mengingat pada mulanya, Nintendo bukanlah perusahaan video game, namun merupakan perusahaan produsen permainan kartu khas Jepang. Perubahan konsentrasi bisnis Nintendo dilakukan oleh dua orang yang memiliki latar belakang dan sifat sangat bertolak belakang yang membuat Nintendo menjadi seperti saat ini. Dua orang tersebut adalah Shigeru Miyamoto dan Hiroshi Yamauchi.

The Creative and The Heir

Bocah aktif dengan efek mushroom permanen. Kira-kira hal itulah yang dapat menggambarkan masa kecil Shigeru Miyamoto. Sejak kecil, imajinasi di dalam kepalanya penuh warna dan cenderung muncul secara sporadis. Seperti Nobita, Miyamoto lahir di keluarga Jepang yang umum. Si ayah bekerja sebagai guru dan si ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Berbeda dengan si ayah, yang tidak terlalu suka dengan kreatifitas anaknya, ibu dari Miyamoto selalu memacu kreatifitas bocah giting ini. Miyamoto, yang menganut paham “mari buat mainan sendiri karena beli mainan terlalu mainstream”, membuat sendiri hampir seluruh mainan yang ada di rumahnya. Mulai dari sebuah kursi yang disulap menjadi “racing arcade” sampai meledakkan pesawat mainan buatan sendiri dengan petasan. Kenapa dia melakukan itu? Karena dia Shigeru Miyamoto.

            Lain dengan Miyamoto yang memiliki kreatifitas dan lahir di keluarga “Nobita”, duo berikutnya dari Nintendo, Hiroshi Yamauchi lahir di keluarga yang kekayaannya dapat membuat Suneo merasa minder. Yamauchi lahir sebagai cucu dari pendiri Nintendo (Fusajiro Yamauchi). Namun, hal tersebut tidak membuat Yamauchi muda ongkang-ongkang kaki. Yamauchi muda tidak pernah merasa bangga menjadi pemenang lotere genetika dari Tuhan dengan hadiah menjadi cucu dari dewa Nintendo. Yamauchi muda merasa Nintendo masih memiliki potensi untuk berkembang. Yamauchi muda ingin membuat dunia bertekuk lutut melalui karya Nintendo.Yamauchi muda ingin menjadi salah satu orang terkaya di Jepang. Yamauchi ingin menjadi dewa Nintendo dengan caranya sendiri.

Yamauchi’s Vision

Hiroshi Yamauchi resmi menjadi pegawai Nintendo pada umur 21 tahun. Pegawai lain memandangnya sebelah mata. “Produk Nepotisme” adalah julukan yang diberikan para pegawai kepadanya. Julukan dan aneka pandangan remeh justru membuat Yamauchi semakin tangguh. Di masa itu, Nintendo merupakan perusahaan yang memiliki jaringan “Love Hotel” (baca : Hotel cabul jam-jam-an). Ketika Yamauchi bergabung, Nintendo sedang dilanda hantaman ekonomi. Mungkin pada masa itu masyarakat Jepang memang sedang malas bersetubuh di hotel, tapi yang jelas hantaman tersebut sampai membuat Nintendo harus menutup beberapa jaringan hotel mereka.

            Yamauchi, yang terkenal tanpa tedeng aling-aling dalam mengambil keputusan, langsung turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini. Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan perampingan perusahaan. Divisi hotel cabul langsung dibubarkan. Seluruh karyawan yang ada dalam divisi tersebut dipecat. Dana yang didapat dari menjual gedung hotel digunakan Yamauchi untuk membeli lisensi gambar karakter Disney untuk membuat kartu bergambar dan mengembangkan mainan anak-anak.

            Strategi Yamauchi berhasil. Kartu Disney laku keras bagaikan kolak di bulan Ramadhan. Selain itu, Ultra Hand, mainan anak-anak yang dibuat oleh salah satu pengembang andalan Nintendo, Gunpei Yokoi, juga mendapat sambutan positif di pasar mainan Jepang. Tercatat lebih dari 1,2 juta unit Ultra Hand terjual. Pencapaian ini membuat Yamauchi semakin ingin menggali potensi Nintendo di industri mainan.

            Mata Yamauchi mulai tertuju ke ranah video game ketika melihat Magnavox Odyssey yang dibuat oleh Ralph Baer. Di bawah komando langsung beliau, pada tahun 1974, Nintendo resmi menjadi pemegang lisensi Magnavox Odyssey di Jepang.  Di mesin yang menyerupai hasil fusion dari oven dan televisi tabung itu, Yamauchi tidak hanya melihat dari keuntungan yang didapatkan melalui lisensi, namun juga dari segi basis teknologi yang dapat dimanfaatkan sebagai pondasi pengembangan divisi video game Nintendo yang baru saja didirikan.

            Berbekal teknologi karya Ralph Baer, Yamauchi menunjuk langsung Yokoi untuk menggerakkan Nintendo memproduksi versi Ucok Baba dari Magnavox. Versi ini tentunya memiliki sentuhan Nintendo yang lebih kental. Proyek ini dinamakan “Project Game & Watch”.

            Pada tahun 1981,”Ball”, judul pertama dari Nintendo Game & Watch lahir. Apakah menurut pasar Jepang produk tersebut tergolong fenomenal? Ya. Apakah Yamauchi puas dengan produk tersebut? Tidak sama sekali. Yamauchi merasa Nintendo bisa lebih besar. Nintendo pun memasuki babak baru. Nintendo merambah industri Arcade atau coin-operated game.

The Apprentice

Di tahun yang sama, sisi koin Nintendo lainnya, Shigeru Miyamoto, sedang mencari pekerjaan. Ia ingin mencari pekerjaan sebagai seorang mangaka atau penggambar komik, namun tak kunjung berhasil. Ayahnya merasa iba melihat sang anak manyun tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang dapat memfasilitasi imajinasinya. Kebetulan, pada waktu itu, salah satu teman si ayah kenal cukup akrab dengan Yamauchi, sang bos Nintendo. Walhasil atas permintaan ayahnya, Miyamoto diminta datang oleh pihak Nintendo untuk ikut wawancara pegawai.

            Sesampainya di markas Nintendo, Miyamoto diwawancara langsung oleh sang bos. Yamauchi sebenarnya tidak terlalu tertarik ketika melihat CV Miyamoto yang merupakan lulusan jurusan seni rupa dari Kanazawa Munichi College. Pada masa itu, Nintendo juga membutuhkan lebih banyak engineer ketimbang tukang gambar macam Miyamoto.

            Pertanyaan pertama yang dilontarkan Yamauchi adalah “Apa alasan saya mempekerjakan kamu?”. Pertanyaan tersebut memang sekilas bukan pertanyaan yang seru seperti “Kamu suka bermain Zuma?” yang mungkin dilontarkan dalam wawancara calon pegawai kantor walikota Depok. Namun, dari pertanyaan sederhana itulah Yamauchi akan menilai seberapa antusias dan jujur calon pegawainya.

            Ditanya seperti itu, Miyamoto tidak berkata panjang lebar. Ia hanya mengeluarkan beberapa karyanya dari tas belel yang dimilikinya sejak kuliah. Ia menunjukkan sketsa gambar alarm, istana, dan taman bermain. Yamauchi tertarik dengan gambar Miyamoto yang dinilainya jujur dan memiliki daya imajinasi yang unik. Sebelum menyudahi wawancara, tanpa basa-basi sang bos langsung bertanya kepada anak buah barunya. Yamauchi bertanya apakah Miyamoto mampu menyusun strategi rejuvenasi dan memberi warna baru di divisi permainan kartu Nintendo yang mulai meredup. Miyamoto hanya tersenyum. Miyamoto tidak mengatakan dia bisa melakukannya. Namun, ia juga tidak mengatakan bahwa dia tidak bisa. Yamauchi menganggukan kepalanya dan beranjak dari ruangan tersebut. Wawancara selesai. Miyamoto diterima menjadi pegawai divisi permainan kartu Nintendo.

Rindradana

Next on part 2 : How the duo reshape video game industry with one title

 

    • Ngaekal

      Saya orang depok lho. #komenpenting

    • http://www.facebook.com/grey.gori.7 Grey Gori

      mantap !
      izin buat dijadiin bahan artikel di blog gw ya ?