Abuget

The Last of Us

the-last-of-us-1

Jika Anda bertanya kepada saya, apakah ada game yang bisa dijadikan series baru di HBO, maka jawabannya adalah “Ada”. Game tersebut berjudul “The Last of Us”. Saya pun yakin, dengan eksekusi yang tepat, seri tersebut akan langsung mendapatkan Emmy Awards di season pertamanya.

Brutal, tanpa basa-basi, intens, emosional, dan indah. Itulah The Last of Us. Premis yang game ini sederhana dan sebenarnya sudah banyak diusung, yaitu zombie outbreak (zombie di game ini disebut infected) serta segala tetek bengeknya. Yang membedakan dengan game lainnya adalah, manusia berubah menjadi infected bukan disebabkan oleh virus melainkan karena jamur. Bukan, bukan jamur tai kebo.  Perlu diperhatikan, The Last of Us bukanlah game yang sempurna (nanti akan saya bahas lebih lanjut), namun eksekusinya secara keseluruhan sangat manis. Naughty Dog berhasil menampilkan suasana pasca kekacauan dengan menggambarkan bagaimana setiap orang itu memiliki persepsi dan cara mereka sendiri untuk mempertahankan hidup.

Kalau dari segi grafis, game ini jelas tidak perlu diragukan lagi. Meragukan kemampuan Naughty Dog dalam membuat sebuah game dengan grafis papan atas itu seperti meragukan kemampuan Farhat Abbas dalam bertindak bodoh. Begini saja, kecuali Anda selama ini tinggal di balik batu bersama udang, Anda pasti sudah lihat Uncharted 2. Nah, kualitas grafis The Last of Us lebih dari itu. Menawan seperti kekayaan nabi Sulaiman.

Terlepas dari grafis yang bombastis, bintang utama dari game ini adalah interaksi antara dua pemeran utamanya, yaitu Joel, si gembel nggak mandi dan Ellie, si anak kecil asik. Joel adalah seorang bapak-bapak yang harus melihat dunia yang dia kenal selama ini hancur berantakan. Salah satu hal yang harus Joel biasakan adalah memahami kalau istilah “nge-jamur” sudah bergeser dari ajakan untuk mabuk-mabuk psychedelic, menjadi berburu infected. Joel adalah karakter yang tidak ragu melakukan apapun untuk survive. Minim empati, bantai sana-sini, dan memegang teguh prinsip “bunuh atau dibunuh”. Sementara itu, Ellie adalah seorang anak berumur 14 tahun yang naif, tangguh, dan menganut paham freestlye ketika berucap (saya lupa berapa kali Ellie ngomong “fuck”). Cerita di game ini terbagi menjadi 4 bagian, dan di tiap bagian, perkembangan hubungan antara mereka berdua terbangun dengan sangat rapi. Keduanya membentuk interaksi hubungan ayah dan anak yang disfungsional namun sangat menarik untuk diikuti.

the-last-of-us-2

Dari segi gameplay, The Last of Us memiliki kelas yang sedikit di atas Uncharted series. Dari segi dar-der-dor, game ini 11-12 lah sama Uncharted. Hal yang membedakan dengan Uncharted adalah jagoan game ini memiliki “Listen Mode”, yaitu sebuah kemampuan super yang membuat mereka bisa mendeteksi posisi musuh hanya dari suaranya saja. Sekedar tips, jika Anda mau game ini terasa lebih greget, jangan gunakan kemampuan tersebut. Dengan mengacuhkan listen mode, ketegangan dan keasyikan game ini bertambah secara signifikan.  Selain itu, yang membuat game ini asik adalah sensasi eksplorasi dan keterbatasan sumber daya yang harus dihadapi. Di game ini, setiap peluru terasa sangat berharga. Dalam tingkat kesulitan hard, tidak jarang anda akan menghadapi musuh dengan persenjataan yang terbatas. Tapi tenang saja, game ini membebaskan anda untuk memilih strategi anda dalam melewati suatu area. Anda bisa melakukan apa yang saya lakukan, yaitu membantai habis semua musuh, atau mindik-mindik mengoptimalkan fitur stealth. Salah satu fitur lagi yang membuat saya kagum dengan game ini adalah animasi CQC. Adegan CQC di game ini tidak sadis, namun brutal dan menggambarkan keadaan “bunuh atau dibunuh”. Aksi stealth takedown Ellie, di mana ia melompat ke arah musuh dan menggorok lehernya dengan pisau lipat sungguh menawan. Adegan Joel membacok musuh dengan golok? Orgasmic. Membuat anda menginginkan untuk melakukannya lagi dan lagi.

the-last-of-us-3

Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf kedua, game ini memiliki juga memiliki kekurangan. Satu kekurangan yang paling terasa adalah AI yang kurang konsisten. Ketika Anda nongol dan musuh melihat Anda, maka mereka akan langsung mengejar Anda dengan membabi buta. Namun kalau karakter lain yang seliweran, Ellie misalnya, para musuh seolah santai saja. Hal ini paling terasa ketika anda sedang melawan clicker, infected yang sensitif dengan suara. Anda ribut sedikit, langsung diuber. Rekan Anda seliweran kayang koprol, clicker santai kayak di pantai.

Kira-kira begitulah review saya mengenai game kelas surga ini. Asal tahu saja, Anda sudah menghabiskan waktu sekitar 5 menit untuk membaca artikel ini. 5 menit yang sebenarnya bisa anda gunakan untuk bermain Last of Us. Jadi, segeralah cicipi kedigdayaan dan kesyahduan karya agung teranyar dari Naugty Dog. Tidak punya PS3? Uang Anda terbatas? Santai saja. Saya yakin ginjal Anda masih dua. Jual satu juga masih bisa hidup kok. Yang penting banyak minum air putih.

VERDICT : 9.5 /10

(+) Alur cerita sangat yahud. Ending yang anti-klimaks namun indah

(+) Grafis bombastis

(+) Interaksi Joel dan Ellie sangat dinamis

(+) Aksi yang brutal dan efisien

 

(-) AI yang terkadang kurang konsisten

    • Bryan

      Kalimat terakhir bisa di pertimbangkan …

    • kelpon

      ginjal haha ginjal

    • Iwanova

      DISFUNGSIONAL :))))))

    • Grey Gori

      menurut gw juga permasalahan awareness AI terhadapap karakter pembantu macam Ellie atau yang lainnya memang agak aneh tapi mungkin itu dilakukan karena supaya tidak memaksakan sistem permainan yang tadinya menantang menjadi menyebalkan. Gak kebayang dengan perilaku AI Ellie yg kesana kemari pada saat mode Stealht malah bikin kacau suasana. Just my opinion.

    • Grey Gori

      Untuk masalah jual ginjal… gak usah gitu juga sih masih banyak rental PS3 :)

    • hyding

      hahahaha

    • mokatman666

      AAAAHHH!, pengen maen. blom punya ps3 ~_~. Dari pertama kluar nih game, dah kesengsem ngeliatnya O_O.