Abuget

South Park : The Stick of Truth

         South Park. Sebuah seri animasi yang sudah tidak perlu lagi diragukan kegilaannya. Saya sangat suka South Park. Sudah 12 tahun saya akrab dengan seri ini. Namun, ketika THQ mengumumkan akan membuat Stick of Truth, saya cukup skeptis kalau game ini akan mengikuti kedigdayaan seri animasinya. Maklum, game-game terdahulu mereka yang memiliki fitur bisa nyambit salju beroleskan kencing kurang mengena di hati. Tak lama setelah pengumuman tersebut, THQ bangkrut. Saya juga kurang paham kenapa mereka bisa bangkrut, mungkin mereka disabotase sama FPY (Front Pembela Yahudi) yang kebetulan anti South Park. Tak lama kemudian, Ubisoft mengakusisi salah satu anak perusahaan THQ, yaitu Obsidian dan langsung mengumumkan akan melanjutkan pengembangan Stick of Truth walaupun harus mengundur tanggal rilis mereka. Sudah berganti bos, rilisnya diundur pula. Saya pun semakin skeptis.

            Pada tanggal 4 Maret, Stick of Truth dirilis. Apakah sikap skeptis saya kalau game ini akan biasa-biasa saja terbukti benar? Ternyata tidak. Sama sekali jauh dari benar. Setelah saya mainkan sampai tamat, saya dapat dengan yakin menyatakan kalau South Park : Stick of Truth adalah RPG terbaik yang pernah ada di PS3. “Kalau di X360? Masih ada Witcher 2. Kalau di PC? Ada Witcher 2 juga. Masa lebih bagus dari Ni no Kuni? Ya iyalah, kan tadi udah saya bilang game ini adalah RPG terbaik di PS3. Udahlah nggak usah ngeyel, akui saja kalau RPG di PS3 itu emang rada blepet. Kalau Wii? Tolonglah coba itu otaknya dicebokin dulu sebelum nanya”. Yak begitulah kira-kira jawaban saya kalau beberapa dari Anda mau memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

            Di game ini Anda berperan sebagai seorang anak yang keluarganya baru saja pindah ke South Park. Setelah beres-beres, Anda diajak main sama anak tetangga. Layaknya anak-anak, Anda pun ikutan main bersama. Anak-anak South Park sedang bermain perang-perangan fantasi RPG bertema perebutan Stick of Truth antara Human vs Elf. Begitulah cerita game ini. Sangat sederhana. Ya setidaknya sampai kemunculan alien, Nazi zombie, Al Gore, Morgan Freeman, hingga kunjungan ke Amerika Jr. atau Kanada.

            Anda memulai game ini seperti game RPG klasik pada umumnya. Buat karakter (sudah jelas saya buat karakter saya botak hitam legam dengan harapan siapa tau akan diadopsi Angelina Jolie), buat nama karakter (tidak akan berpengaruh karena pada akhirnya Anda akan dipanggil “Douchebag” sepanjang gim), dan pilih class. Adapun class yang bisa dipilih adalah Knight, Mage, Thief, dan Jew. Saya pilih apa? Ya jelas Jew. Masa saya tidak mau mencicipi skill seperti Sling of David, Jew-Jitsu, atau Plague of Egypt? Udah gila apa? Mubazir sekali rasanya kalau tidak pilih class itu.

            Secara mengejutkan, battle system di game ini menyenangkan dan mengingatkan saya kepada game seperti Super Mario RPG. Skill dan trait dari setiap orang pun berbeda-beda. Mulai dari Cartman yang mengeluarkan sumpah serapah sebelum mengeluarkan jurus terkuatnya, hingga Kenny yang tidak bisa di­-revive karena ketika mati, dia langsung dimakan tikus dan menghilang dari layar. Sederhana sekaligus brilian.

            Dari segi cerita sudah tidak perlu diragukan lagi. Hancur sehancur-hancurnya. Very South Park. Apabila Anda penggemar South Park, Anda akan langsung merasa bahagia sentosa. Stick of Truth terasa bagaikan sebuah rangkaian episode panjang dari seri legendaris yang melegenda seperti legenda yang tiada tanding tanpa banding. Semua cerita utama sampai side-quest dibanjiri oleh referensi dari perjalanan 17 tahun seri ini.

            Sebagai contoh, salah satu side-quest di game ini berjudul “Finding Jesus”. Sesuai judulnya, Anda bertugas untuk mencari Yesus. Di mana mencarinya? Ya jelas di Gereja. Lantas, apa yang Anda lakukan ketika Anda berhasil menemukan Yesus? Masuk Katolik? Menjadi tandem Beliau di lini depan Fiorentina atau AS Roma? Tentu tidak. Beliau akan menawarkan diri untuk membantu Anda di pertarungan, alias menjadi summon. Tapi apakah “Finding Jesus” adalah quest terbaik di game ini? Oh tentu saja bukan. Tunggu sampai Anda blusukan ke Kanada. Legendaris yang melegenda seperti legenda yang tiada tanding tanpa banding.

              Jika Anda membaca review yang beredar di kanal game lain, beberapa reviewer menilai kalau kekurangan game ini terletak kepada masalah teknis seperti terkadang suka crash dan semacamnya. Untungnya saya tidak pernah mengalami hal tersebut. Di PS3 saya, Stick of Truth berjalan lancar seperti ketika Jakarta pada waktu lebaran. Adapun kekurangan game ini buat saya hanya dua, loadingnya relatif banyak dan level cap yang terlalu kecil (level maksimal hanya 15).

         Secara keseluruhan, harus diakui kalau game ini bukan untuk semua orang. Jika Anda penggemar South Park atau ingin memainkan sebuah game yang sembarangan dan jenius secara bersamaan, silakan langsung mainkan game ini. Namun, jika Anda adalah bagian dari sekumpulan manusia yang tidak bisa menerima joke tentang sodomi, bakteri di pantat homo atau sejenisnya, lebih baik menjauh dari game ini. Anda kelihatannya lebih cocok main Final Fantasy XIII : Lightning Returns.

Verdict 9.3 / 10

 

(+) Battle system yang sederhana dan seru

(+) Sangat lucu. Sangat South Park

(+) Bisa summon Yesus

(+) Kanada

(+) dan masih banyak lagi

 

(-) Level cap yang kecil

(-) Loading yang relatif banyak

 

Rindradana

    • Furredo

      (+) Bisa summon Yesus :)))))))))

    • Ajrag

      Game ini emang epik dahsyat luarbiasa tenan.

      Herannya waktu saya namakan karakter saya dengan Ajrag, tetep dipanggil Douchebag. Lancang sekali Cartman dkk.

    • http://gamehipp.com/ Wyndo Mitra Buwana

      baca review ini pun sya udah senyum2 sendiri :))