Abuget

KALAU NGGAK DIINGET JUGA NGGAK APA-APA

remember-meAnda mungkin memiliki kawan yang pintar, terlihat memiliki banyak potensi namun pencapaian hidupnya biasa-biasa saja. Anda tau dia bisa lebih baik. Nah, Remember Me kurang lebih seperti kawan anda itu. Premis gemerlap, eksekusi megap-megap. Game ini tidak jelek, tapi bisa lebih baik lagi.

                Game ini berlatar belakang di Neo-Paris, 2084. Di masa itu, memori sudah bisa dimanipulasi sedemikian rupa. Ingin mengulang ingatan saat anda main Ragnarok Online sebelum ada Bot? Bisa. Ingin mengubah ingatan buruk anda ketika gagal lulus kuliah? Bisa. Ingin mengingat pengalaman pertama kali berhubungan seks? Lebih baik nggak usah. Palingan yang keinget cuman copot-copot dan berdarah-darah. Dapat memanipulasi ingatan tentunya akan berguna apabila dilakukan dengan khidmat, namun yang terjadi di sini adalah monopoli ingatan dari perusahaan penyelia manipulasi tersebut. Belum lagi efek samping dari manipulasi ingatan yang berlebihan dapat merubah manusia menjadi makhluk ganas bernama “Leapers”. (A : Makan yuk, bro… Gue Leapers nih… II B: Becandaan lo katro, nyet… )

Protagonis di game ini adalah perempuan berkulit sawo matang bernama Nilin. Seksi? Lumayan. Kawinan-able. Nilin adalah salah satu anggota Errorist (nama yang norak) yang memiliki kemampuan untuk melakukan “Memory Remix” yaitu mengganti ingatan seseorang dengan ingatan versi si mbak Nilin. Dipandu oleh suara asing penambah congek bernama Edge, Nilin dan gerombolan bernama norak tadi memiliki tujuan untuk menggulingkan perusahan pelaku monopoli ingatan. Apa alasannya? Biar asik aja.

Seperti yang saya bilang di awal, game ini tidak jelek. Menurut saya, game ini memiliki 3 potensi utama. Pertama, premis manipulasi ingatan yang seru. Kedua, karakter utama yang menarik. Ketiga, environment Neo-Paris yang gegap gempita. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf pertama, eksekusinya megap-megap.

Cerita dari Remember Me ini kurang greget. Adegan awal game yang asoy dan beberapa twist seperti dibiarkan mubazir. Endingnya pun seadanya. Karakter selain Nilin dan Edge berkesan sebagai tempelan belaka. Battle system dalam game ini sebenarnya juga memiliki potensi. Boss battle-nya cukup bagus. Selain itu, sistem kostumisasi combo memungkinkan pemain untuk melakukan eksplorasi yang mendalam. Namun, sayang animasi pergerakan Nilin ketika bertarung kurang luwes. Walhasil, pertarungan di game ini terasa seperti versi encok dari Arkham Asylum.

remember-me-paris

Neo-Paris yang gemerlap juga tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Game ini sangat linear. Remember Me mungkin lebih lurus dari penggaris Butterfly 30 cm. Hal ini membuat eksplorasi Neo-Paris menjadi mustahil. Bagi saya ini bagaikan ada Luna Maya bugil di depan mata tapi cuman boleh ditiup doang. Ngenes. Kamera juga beberapa kali tidak konsisten. Pernah ketika saya sedang bertarung, kamera tiba-tiba merapat sporadis ke muka Nilin. Ini membuat saya merasa dipaksa oleh game ini untuk akrab dengan si jagoan. Bukannya saya tidak mau, tapi ada cara lain lah untuk menjalin hubungan yang hangat dan berwawasan nusantara.

Terakhir adalah fitur mantap yaitu memory remix. Setiap adegan memory remix di game ini sebenarnya keren, namun jumlah kemunculannya terbatas. Untuk suatu hal yang seharusnya menjadi inti utama, kemunculan memory remix ini bagaikan menyaksikan pertandingan sepak bola seru di antara dua tim tangguh tapi hanya tercipta satu gol. Seru sih, tapi akan lebih asik kalau gol yang tercipta lebih banyak.

So, should you play it? Kinda. Remember it? Maybe not.

VERDICT : 7.0 / 10

(+) Premis menarik

(+) Nilin anaknya asik

(+) Memory Remix adalah fitur yang cukup keren

 

(-) Eksekusi akhir yang tidak memfasilitasi potensi premis

(-) Kamera begundal

(-) Sangat linear

    • dhiya

      gokil juga review lu bro, hahaha gw suka

    • Knock knock

      Tapi Nilin sudah memikat mata saya… K then I’ll try. Thanks for your lol-able review

    • weng-weng-weng

      penggaris butterfly…. gilak