Abuget

Heavensward : A Class Act

2015. Sebuah tahun di mana saya banyak terlambat menamatkan gim-gim ternama. Witcher 3, Undertale, bahkan Xenoblade Chronicles X, adalah sejumlah contoh dari gim yang terkena keterlambatan tamat yang cukup signifikan. Adapun alasan utama dari keterlambatan tersebut adalah gim Final Fantasy terbaik dalam kurun waktu 21 tahun terakhir, Final Fantasy XIV : Heavensward.

Setelah Ragnarok Online (RO), saya adalah orang yang cukup membatasi diri dari MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game ya, bukan Mamang Mas dan Om Role-Playing Gadis). Saya menghindari bukan karena tidak suka, namun karena takut ketagihan sehingga tidak sempat memainkan game lain.  Saya sempat main WOW, Guild Wars 2, Star Wars : The Old Republic, dan beberapa MMORPG lainnya, tapi ya hanya sebatas ingin tahu saja. Pada tahun 2013, A Realm Reborn (ARR) rilis. Sebuah reboot sukses dari Naoki Yoshida yang berhasil membangkitkan FF XIV yang mati sebelum berkembang. Saya sempat memainkannya, saya suka, namun setelah itu saya tinggalkan setelah menyelesaikan konten 2.0. Menarik untuk dimainkan, namun tidak cukup alasan untuk saya bertahan terlalu lama, Kira-kira begitulah cerita singkat pengalaman saya bersama ARR.

Berselang 2 tahun kemudian, Heavensward rilis. Saya mulai main dari awal Juli, dan 300+ jam kemudian, saya nyatakan saya kembali lagi ke dunia MMORPG seperti zaman RO. Sebuah expansion terbaik yang pernah saya mainkan.

tumblr_ndnluzqMfZ1sj60vjo1_500

Jika digambarkan dengan Limit Break Aerith, ARR bagi FFXIV berlaku layaknya Pulse Of Life, dan Heavensward adalah Great Gospel. ARR mampu membangkitkan kembali, Heavensward memberikan nyawa baru dan status yang mengambarkan game ini. Peerless.

Layaknya expansion MMORPG lainnya, kita harus menyelesaikan cerita utama dari FFXIV : ARR untuk masuk ke dunia Heavensward. Bagi beberapa pemain baru, hal tersebut mungkin terasa demanding. Bagi Anda yang merasa demikian, tidak perlu khawatir. Patch dan balancing yang dilakukan di ARR sampai Heavensward rilis menjadikan ARR sebagai pengantar yang baik untuk masuk ke Heavensward, khususnya dari segi equip dan leveling. Cukup dengan mengikuti quest utama dan quest class utama, Anda sudah siap melaju jaya di Heavensward. Hal tersebut membuat Anda bisa berkonsentrasi untuk melakukan eksplorasi dan menikmati story.

Cerita dari Heavensward langsung melanjutkan Game of Throne-esque ending dari ARR, dan YA ALLAH ceritanya bagusnya bukan main! Tanpa ragu saya nyatakan kalau, dari segi cerita, Heavensward selevel dengan dua Final Fantasy terbaik menurut saya, yaitu FF VI dan FF IV. Pacing yang tepat, writing yang berani, dan intrik yang tidak terduga, adalah bagian dari kedigdayaan storyline Heavensward. Jika Anda tergolong orang yang gemar mengatakan “ah ff udah nggak keren lagi setelah FF VII / VIII / IX / berapapun itu” tapi belum pernah mendalami FF XIV, khususnya Heavensward, lebih baik Anda diam dan masuk toilet untuk cebok kebebalan Anda.

Final-Fantasy-XIV-Heavensward-2

Tidak banyak game MMO yang memiliki latar belakang lore seperti FFXIV, dan saya akui, belum ada game di dunia ini yang bisa menyajikan nostalgia seperti game ini. Mulai dari Magitek, Clash on the Big Bridge , hingga permainan kartu Triple Triad tersaji rapi tanpa ada kesan dipaksakan untuk masuk. Nah, salah satu keunggulan dari Heavensward adalah bisa memperkuat elemen nostalgia tersebut dengan sempurna. Dengan penambahan seperti Knights of the Round, Matoya’s Cave, dan rencana memasukan Warring Triad di patch berikutnya, saya yakin para penggemar Final Fantasy dari segala umur bisa relate dengan referensi yang ada di game.

Naoki Yoshida pernah berujar, sebagai penggemar Final Fantasy, beliau ingin memastikan kalau setiap elemen nostalgia di Heavensward tidak masuk hanya karena fans ataupun dia ingin masukkan, melainkan harus sejalan dengan identitas FFXIV dan lore dari referensi yang dipakai. Salah satu contohnya adalah, di satu titik, Yoshida-san ingin menjadikan Red XIII sebagai salah satu mount (tunggangan) di Heavensward. Langkah itu dibatalkan karena beliau ingat bahwa Red XIII adalah bagian dari ras yang sudah hampir punah, akan aneh kalau kita lihat Red XIII seliweran seperti motor kreditan di jalan raya.

Walau Heavensward berlumuran dengan nostalgia, game ini sendiri tidak terasa hanya sebagai gumpalan kenangan atau throwback belaka. Indentitas FFXIV, khususnya Heavensward, sebagai game sangat kuat. Tidak hanya dari segi cerita, desain dungeon dan boss fight juga menjadi pondasi yang kokoh untuk membangun dunia Heavensward sampai semegah sekarang. Baik dungeon maupun boss fight memiliki latar belakang dan mekanik yang berbeda serta unik. Jika di ARR summon (di FF XIV dikenal dengan nama Primal) yang tersaji adalah referensi seputar summon klasik seperti Bahamut, Ifrit, Odin, Ramuh, sampai Leviathan, maka di Heavensward tersaji beberapa primal baru seperti Bismark dan Ravana. Kedua primal tersebut tidak hanya sekedar baru, tapi juga merupakan bagian integral dari keseluruhan cerita Heavensward. Sekedar tambahan, untuk saya, Ravana adalah salah satu summon dengan desain terbaik yang pernah ada di dunia Final Fantasy.

ffxiv_pcw19002_1920x1080_en

Sebenarnya masih banyak kelebihan dari Heavensward. Nama quest dengan plesetan kelas dewa sejak zaman ARR (Quake me up before you O’ghomoro, Smells Like Tree Spirit, The Fault in Our Cards, dan masih banyak lagi), hingga quest yang dibuat khusus agar para developer bisa berterima kasih secara “langsung” kepada para pemain. Heavensward mengambil langkah tepat dengan melanjutkan formula A Realm Reborn, tetap melakukannya secara sederhana dan menambahkan referensi Final Fantasy secara estetika dan cerita. Dengan pendekatan itu, saya rasa FFXIV sudah jauh dari krisis yang pernah melanda dan siap melegenda.

Sekian dari saya. Sampai bertemu di Eorzea.

FFXIV-Heavensward-OP-Cinematic

    • Ivan Kurnia

      Waduh. Tergoda. Dulu sempat intens main WoW, padahal cuma server internal kampus dgn peserta ga sampe 30 orang, haha (ga ada sense MMORPG jadinya).. Kalau mulai main ini bisa terancam nih S3 gw (T__T)

    • Dany Dakukuc Aditya

      Ini kayanya yg nulis tuyul di FC Slaps deh :p

    • ClashOnTheBigBridge

      LOLDRG Feisty Galick here!!!
      kalo bisa ketemu ntar di Tonberry om.