Abuget

Final Fantasy XV : Akhirnya Datang Juga

E3 2006. Sebuah masa di mana FF Versus XIII pertama kali diumumkan. Saya masih ingat bagaimana hype-nya saya ketika melihat kalimat “This is a fantasy based on reality”. Pada saat itu juga saya memantapkan diri untuk menabung buat membeli PS3 (Dulu saya belum pakai cheat motherlode, jadi uang saya untuk urusan gim masih terbatas). Tapi nasib berkata lain, PS3 sudah dibeli, FF Versus XIII tidak kunjung rilis. Yang rilis malah 3 judul Final Fantasy XIII. 3 JUDUL!. Berak kau Square Enix.

7 tahun berselang, tepatnya di E3 2013, Final Fantasy Versus XIII berganti nama menjadi Final Fantasy XV. 3 tahun setelah itu Final Fantasy XV rilis. Penantian pun berakhir. Setelah 50 jam bermain, dengan ini saya nyatakan, menurut saya FF XV was worth the waitWell, kinda.

ffxv-lagi

Sebelum saya mulai review-nya, saya peringatkan terlebih dulu, jika Anda berharap setelah 10 tahun pengerjaan Final Fantasy XV rilis sebagai gim yang sempurna bombastis tanpa cacat maka, maaf, harapan Anda pupus. Walaupun sebagian dari kalian sudah menunggu lama, janganlah terlalu menuntut kesempurnaan dari FFXV. Karena, seperti yang berkali-kali saya katakan dalam sejumlah kesempatan, kesempurnaan hanyalah milik Allah dan GTA V.

FFXV adalah sebuah gim bagus yang memiliki sejumlah kekurangan. Salah satu kekurangan yang buat saya paling terlihat adalah dari segi editing dan beberapa gimmick dari storyStory-nya sendiri tidak jelek namun juga tidak istimewa, tetapi editing yang kasar membuat mood dan narasi gim ini terganggu. Beberapa gimmick, seperti penggunaan jump scare yang nanggung dan kesannya dipaksakan juga cukup menghambat beberapa scene. Pacing dan narasi paruh awal gim juga seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik. Belum lagi kalau pemain belum menonton Kingsglaive dan Brotherhood, pasti akan sulit untuk memahami FFXV secara keseluruhan.

Kekurangan selanjutnya adalah grafis yang kurang konsisten. Di sejumlah cutscene, gim ini terasa melampaui kualitas grafis Witcher 3 (versi konsol tentunya), terutama di penghujung game. Ending-nya buset dah itu animasi. Namun, ketika di luar cutscene, beberapa area agak kasar. Bisa jadi ini disebabkan karena proses peralihan sistem dari PS3 ke konsol terbaru. Mungkin peralihan sistem itu pula yang membuat loading FFXV termasuk agak lambat.

Lantas apa yang membuat saya menganggap FFXV bagus? Alasan terkuat saya adalah karena karakterisasi 4 karakter utama di gim ini : Noctis si Gilgamesh dari Binus, Ignis si supir serba bisa, Gladiolus yang skillnya paling sering saya spam, dan Prompto si tukang foto keliling. 4 orang tersebut mungkin adalah karakter yang paling membumi dalam sejarah Final Fantasy. Kedekatan dan interaksi mereka juga terasa alami. Keberadaan mereka pula yang mengangkat story FFXV secara keseluruhan. Terima kasih Noctis, Ignis, Gladiolus, dan Prompto. Kalian membuat petualangan ini menjadi seperti road trip yang dilakukan dengan kawan dekat.

ffxv

Kelebihan selanjutnya adalah battle system yang menurut saya dieksekusi dengan sangat baik. Mungkin beberapa orang merasa pusing ketika sedang bertarung karena kameranya terkadang berputar lebih heboh dari pertarungan yang terjadi, tetapi untuk saya, battle system FFXV adalah penyempurnaan battle system sejak FFXII dan juga seri Kingdom Hearts. Sangat fluid dan karakter selain Noctis terasa aktif dalam bertarung.

Penggunaan magic dan summon (di FFXV disebut Astral) yang terbatas juga membuat keberadaan keduanya terasa lebih spesial. Berbeda dengan FF terdahulu yang kalau memanggil summon sudah seperti memanggil kacung tukang pukul, di FF XV ini Astral baru akan muncul di saat tertentu saja. Hal ini sejalan dengan penjelasan yang menyebutkan kalau Astral adalah entitas yang berbahaya dan kekuatannya tidak boleh digunakan seenaknya. Jumlah summon di game ini memang sedikit dan agak pelit muncul kalau dibanding seri FF lainnya, namun sekalinya muncul, ya Tuhan, kerennya bukan main.

leviathan_ffxv_e3

Konten dari game ini juga bejibun. Bagi Anda yang gemar keliaran di end-game, FFXV akan memanjakan Anda. Ingin sejumlah dungeon tambahan? Ada. Ingin memancing lebih banyak ikan? Silakan. Ingin memancing lebih banyak keributan? Oh tentu bisa. Pokoknya sante saja. Banyak yang bisa dilakukan setelah tamat.

Dari segi musik, karya-karya Yoko Shimomura menghadirkan suasana yang berbeda dengan Final Fantasy terdahulu namun sangat mendukung atmosfer FFXV. Harus saya akui, Somnus adalah salah satu lagu yang paling indah dalam sejarah Final Fantasy. Tapi, agak disayangkan karena editing yang kurang baik, beberapa lagu yang seharusnya bisa membangkitkan emosi malah justru kurang terdengar.

Sekian review FFXV dari saya, di akhir kata saya hanya ingin mengucapkan “Aranea Highwind is bae”. Sekian dan terima kasih.

Verdict : 8.3 / 10

(+) Nuansa hopeng Noctis, Ignis, Gladiolus, dan Prompto

(+) Top notch battle system

(+) Banjir konten end-game

(+) OST yang syahdu

(+) Aranea Highwind

 

(-) Narasi dan editing yang agak kasar

(-) Grafis yang kurang konsisten

(-) Loading time relatif lama

(-) Butuh lebih banyak Aranea Highwind

 

Rindradana

    • Ibnu Kautsar

      *rapihin muka kucel* *bentar lagi lawan aranea*