Abuget

FF XIII : Lightning Returns

            Kehidupan kita bisa lebih baik apabila beberapa hal tidak pernah muncul di dunia, dan Lightning Returns adalah salah satunya. Bagi saya, di antara trilogi FF XIII, judul ini yang paling katro. Saya sampai bingung bagaimana Motomu Toriyama bisa membuat Final Fantasy yang lebih jelek dari FF XIII-2, sesuatu yang sebenarnya sangat sulit dilakukan oleh manusia biasa. Ini hitungannya sudah bukan permainan, tapi cobaan. Mungkin, judul yang tepat untuk game ini adalah “Final Fantasy XIII : Lightning Why Do You Even Bother To Return”.

            Kali ini, Light (panggilan akrab untuk Lightning) berperan sebagai pesuruh dari Tuhan bernama Bhunivelze. Kenapa Tuhan itu Bhunivelze? Kenapa bukan Allah? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena di game ini mereka semua kafir. Intinya dunia ini mau direnovasi sama Pak Bhuni (panggilan akrab untuk Bhunivelze) dan dia menyuruh Light mencari jiwa untuk dibawa ke dunia yang baru. Si Light mau disuruh-suruh karena Pak Bhuni menjanjikan akan menghidupkan lagi adik Light, yaitu nona Serah. Light diberikan waktu paling cepat 7 hari, jika Anda main cuek bebek hajar bleh, sampai dengan 13 hari, jika Anda rajin mengerjakan quest dari para penganut Bhunimisme. Sekian latar belakang cerita dari game ini, mari kita lanjut ke kekurangan dan kelebihannya. Tenang, game ini masih ada kelebihannya kok. Cuman ya dikit aja.

            Kekurangan pertama dari game ini jelas adalah plot yang amburadul. Saya kira bahkan sang penulis cerita pun tidak paham apa yang sedang mereka tulis. Lompat-lompat dan tidak ada kesinambungan antara satu plot dengan plot lainnya. Seakan-akan setiap bagian cerita dibuat oleh orang yang berbeda dan tidak pernah bertemu untuk membahas apa yang sedang mereka tulis. Penggabungan cerita dari XIII-2 juga terlihat dipaksakan dan kurang halus masuknya. Saya curiga jangan-jangan siapa pun yang menulis cerita untuk game ini belum pernah main XIII-2 sampai selesai dan hanya tahu ceritanya dari gosip yang beredar di acara semacam Cek & Ricek.

            Selanjutnya adalah karakter. Di game ini, Light berucap, “I am a vessel, I’m an empty one.” Masalahnya adalah Light terlalu serius berperan sebagai “empty one” dan dia menjadi hampa dari awal sampai akhir game. Tidak ada lagi Light yang dingin, gagah, namun dalam saat yang bersamaan sangat peduli dengan kawan seperjuangannya. Light di sini terkesan kosong. Tetap cantik, tapi kosong macam tahu pong.

       Yang bermasalah bukan hanya Light, kawan-kawan lamanya pun demikian. Permasalahan mereka adalah tidak adanya perkembangan berarti dari seri sebelumnya dan bahkan bebrapa dari mereka mengalami penurunan. Hope tetap minta dipalak, Snow makin cengeng, Vanille tetap minta dicekek, Noel makin kacrut, dan Sazh masih mirip Lionel Richie. Oh iya, bahkan sampai Caius pun masih jadi korban salah paham.

            Kekurangan berikutnya adalah grafis. Grafis yang saya maksud di sini bukan ketika sedang cinema, namun ketika cutscene biasa. Cutscene di game ini terasa garing dan bland. Mungkin hal ini disebabkan karena desain map, baik kota dan ladang luas, terkesan dibuat dengan seadanya. Hal tersebut menyebabkan tone di game ini, terutama ketika cutscene, sering terasa tidak konsisten dan miskin emosi.

            Nah sekarang kelebihannya. Kelebihan utama game ini terletak kepada battle system, yaitu sistem schemata. Penerapan 3 armor yang dapat langsung diganti sesuai dengan kebutuhan, membuat flow pertarungan menjadi intens dan cukup fluid. Nampaknya pihak Square Enix memberi kompensasi dari kegaringan cutscene mereka dengan cara menghadirkan pertarungan yang flashy dan banjir efek. Boss battle di game ini juga seru. Berasa benar-benar sedang lawan boss lah pokoknya.

          Kelebihan selanjutnya mungkin terletak di endingnya. Bukan karena endingnya bagus, tapi lebih karena saya lega tidak perlu memainkan game ini lagi. Syukurlah akhirnya penderitaan saya berakhir.

       Kira-kira begitulah pandangan saya terhadap game ini. Secara garis besar, buat saya game ini masih belum pantas untuk menyandang nama besar “Final Fantasy”. Jadi, ada baiknya Anda menghindar dari game ini. Tapi, kalau Anda tetap mau main ya silakan saja. Bagi Anda yang Islam, kalau habis main game ini jangan lupa cuci tangan. Kenapa demikian? Karena Lightning Returns dapat dikategorikan sebagai najis Mukhaffafah atau najis kecil. Ya, Lightning Returns bagaikan kencing bayi laki-laki di bawah umur 2 tahun. Apek.

Verdict : 4.0 / 10

( + ) Battle seru

( + ) Lightning masih cantik

( – ) Cerita amburadul

( – ) Map bikin ngantuk

( – ) Karakterisasi yang garing

( – ) Production value seadanya

( – ) Penjahat utama sama sekali tidak berkharisma

Rindradana

                                    

    • Adipati Rahmat Gumelar

      tapi ya itu. Judulnya Final Fantasy. Engga dimaenin sekarang, pasti menghantui apalagi kl suatu saat jadi referensi. referensi dalam arti buruk sekalipun.
      Seharusnya final fantasy dibuat sama tim generasi baru, yang tahu enaknya main FFVI, FFVII, FF Tactics dan lain-lain. Kemudian ngembangin game bds keinginan menjadi game yang lebih baik dari sebelumnya.

    • fans

      menurut gw game ini baru keliatan bagus kalo udah ditamatin & main New game+nya. Soalnya baru muncul weapon / armor upgrade, ability level up dllnya gitu