Abuget

Danganronpa 2 : Goodbye Despair

Sekumpulan pelajar SMA dikumpulin di sebuah pulau untuk saling bunuh. Yang selamat sampai akhir bisa bebas. Sekilas premis dan formula tersebut memang terdengar klise, dan jika Anda khawatir game ini akan garing dan generik, Anda santai saja. Ini Danganronpa. Tidak mungkin developer game ini menyajikan sesuatu secara biasa.

Anak SMA di game ini bukanlah anak SMA biasa yang baru belajar bandel, kumpulan Anak SMA yang ada di game ini adalah sekumpulan Ultimates, yaitu pemuda pemudi dengan kemampuan khusus. Mulai dari Ultimate yang sudah muncul di game pertama yaitu Ultimate Lucky Student, sampai dengan yang unik yaitu Ultimate Team Manager hadir sebagai landasan dari keriaan di game ini. Agak sedikit disayangkan memang tidak ada peserta dengan kemampuan Ultimate Marvel vs Capcom 3.

Dinamisasi antar karakter dan karakterisasi di Goodbye Despair tertata dengan rapi. Bahkan sedikit lebih rapi ketimbang Trigger Happy Havoc. Sesuai dengan judulnya, “Goodbye Despair”, game ini bercerita seputar bagaimana sekumpulan pemuda pemudi menyikapi keputusasaan, dan interaksi tiap karakter di game ini bisa dikatakan sangat menggambarkan keadaan tersebut. Denial, senyum yang dipaksakan, sampai kepanikan yang dialami tergambar dengan gamblang dan sangat khas Danganronpa. Hampir semua twist di dalam game ini juga tidak terduga. Hal tersebut membuat setiap chapter di game ini menjadi sangat menarik.

Penampilan Monokuma di Goodbye Despair buat saya lebih bagus ketimbang di Trigger Happy Havoc. Lebih sakit. Kehadiran Monomi juga membuat suasana semakin meriah. Saya pun sangat suka dengan salah satu karakter bernama Nagito Komaeda. Bagaimana dia bisa menjadi perekat di game ini sampai akhir membuat saya memilih dia sebagai karakter favorit saya di seri Danganronpa.

Selanjutnya, after game content Goodbye Despair juga cukup melimpah. Salah satunya adalah, Island Mode yang menyerupai School Mode dari Trigger Happy Havoc. Untuk menyelesaikan mode itu sendiri mungkin sudah menghabiskan 10 jam sendiri dari waktu Anda. Itu pun baru satu mode saja, masih ada beberapa mode lain yang bisa Anda nikmati setelah menamatkan main story. Dengan kata lain, value for money dari game ini cukup tinggi.

Salah satu hal yang paling mencolok perbedaannya antara Goodbye Despair dengan Trigger Happy Havoc adalah di Goodbye Despair, Spike Chunsoft menambahkan porsi aksi di dalam mini game ketika kita sedang menghadapi trial. Namun, hal ini jugalah yang justru menjadi kekurangan dari game ini. Penambahan mini game baru seperti Hangman Gambit terasa dipaksakan, kurang berfaedah, serta terkadang justru mengurangi kejutan di dalam teka-teki yang disajikan.

Kekurangan berikutnya adalah lokalisasi yang agak kurang sempurna. Hal ini terlihat ketika dalam beberapa adegan flashback, bahasa yang digunakan masih bahasa Jepang. Nampaknya, ketika sedang menerjemahkan beberapa part, tim Spike kehabisan tahu penerjemah.

Saya rasa dua itu saja kekurangannya. Tidak terlalu berpengaruh kepada experience game ini secara keseluruhan. Jadi bagi Anda yang belum memainkan game ini, tunggu apa lagi? Segera tiup debu dari VITA Anda dan langsung hantam game ini. Apa? Lagi main Freedom Wars? Udah taruh aja dulu, saya udah main hampir 8 jam tapi ya gitu-gitu doang.

Verdict : 8.5 / 10

(+) Cerita yang unik dan menarik

(+) Tiap karakter memiliki personality yang berkesan

(+) Nagito Komaeda jaminan mutu

(+) Sangat mungkin bagi setiap pemain untuk memiliki pengalaman berbeda di setiap chapter

( – ) Beberapa mini game terasa dipaksakan

( – ) Translasi agak kurang sempurna

Rindradana