Abuget

Call of Duty : Advanced Warfare

                    Call of Duty bagi saya telah menjelma dari video game menjadi semacam fast food buat konsol. Efeknya tidak baik, penuh perasa buatan, tapi tidak jarang orang kembali untuk menikmatinya. Jika saya ditanya apa genre Call of Duty selama 8 tahun terakhir, saya akan menjawab turn-off-your-brain-enjoy-dumb-fun-shooter. Advanced Warfare juga tetap konsisten di genre tersebut.

Setelah menghancurkan hampir semua tempat pariwisata di dunia, setting cerita CoD bergeser ke 40 tahun ke depan. Pada masa itu digambarkan kalau kekuatan militer di dunia berpusat kepada satu perusahaan swasta bernama Atlas. Hebat memang si Atlas ini, dari jualan sarung sama peta dunia bisa jadi seperti itu. Inspiratif.

 

Cerita di game ini berpusat kepada hubungan antara si boss Atlas, Jonathan Irons, yang diperankan dengan lumayan oleh Kevin Spacey dengan jagoan kita, Jack Mitchell, yang diperankan dengan seadanya oleh Troy Baker. Ya, memang sulit untuk mehadirkan lagi villain sekelas Makarov, rekan sekelas Reznov, dan jagoan sekelas MacTavish. Apakah ceritanya bagus? Jujur saja sangat klise, namun beberapa dialog cukup tertolong oleh Kevin Spacey yang masih membawa aura Frank Underwood di House of Cards. Beberapa line, yang tentunya terbantu oleh Kevin Spacey, juga memorable. “We don’t sell policy, we sell power. We are superpower for hire”. Gagah. Apakah lebih bagus dari CoD : Ghosts? Ya jelaslah, cerita Pepsiman aja lebih bagus dari Ghosts.

Secara estetika harus diakui game ini luar biasa. Detailnya patut diacungi jempol, bahkan sampai komedo beberapa karakter terlihat. Perbedaan kasta grafis, khususnya dengan konsol generasi terdahulu (PS3 dan X360) sangat nyata. Setidaknya dari segi ini kita bisa tahu kalau Sledgehammer terlihat serius untuk mengembangkan game ini untuk platform yang berbeda. Tidak seperti Tango Gameworks di Evil Within yang terlihat malas.

Semenjak pertama kali diperlihatkan ke publik, fitur yang terlihat menjanjikan bagi AW adalah Exo-Suit. Lantas ketika sudah rilis apakah Exo-Suit membawa perubahan berarti? Jawabannya adalah tidak. Exo-Suit lebih terasa seperti student edition dari armor Crysis sekaligus versi bajakan dari Titan di Titanfall. Palingan yang berubah sekarang saya tergoda untuk berteriak “BURN KNUCKLE!” layaknya Terry Bogard ketika menonjok musuh.

Selanjutnya, dari segi multiplayer juga tidak banyak perubahan yang berarti. Secara garis besar tetap dumb fun. Tetap nggak perlu mikir. Saya selalu menyikapi multiplayer CoD seperti saya menyikapi pertarungan Hajime no Ippo, matikan logika, nikmati saja kegilaannya. Hal yang berbeda adalah ditiadakannya bonus kill streak. Tidak ada lagi helikopter dan bom atom. Mungkin hal ini dilakukan oleh Sledgehammer untuk menyeimbangkan pertarungan. Namun, bagi sebagian pemain, hal tersebut bagaikan KFC tiba-tiba tidak lagi menyediakan kulit ayam karena dianggap kurang sehat. Ayam KFC tanpa kulit = Berak tanpa ngeden. Bisa dilakukan, namun makna jauh berkurang.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan di dalam kesempatan kali ini. Jika Anda butuh fast food, jangan ragu untuk memainkan game ini. Toh pada akhirnya Anda bisa lihat kalau para pengembang game ini memang dasarnya memandang benua Afrika dengan sebelah mata. Sudah tahun 2054, Nigeria tetap digambarkan sebagai negara amburadul yang penuh masalah. Nwanko Kanu pasti sedih melihatnya.

Verdict : 7.0 / 10

( + ) Grafis heboh

( + ) Tetap konsisten menghadirkan nuansa fast food untuk game

( + ) Cukup mengobati luka karena Ghosts

( – ) Hilangnya beberapa bonus kill streak 

( – ) Exo-Suit melempem

( – ) AI kawan cukup bego

Rindradana